Ternyata, Ini Penyebab Meninggalnya Choirul Huda

16 Okt 2017, 09:19:59 WIB
Detakriaunews.com -- Dokter Yudistiro Andri Nugroho, Spesialis Anastesi sekaligus Kepala unit Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr Soegiri Lamongan memberikan pernyataan terkait meninggalnya Choirul Huda penjaga gawang Persela Lamongan, Minggu (15/10). 
 
Choirul Huda meninggal dunia setelah bertabrakan dengan rekan setimnya, Ramon Rodrigues, saat melawan Semen Padang pada lanjutan Liga 1 2017. Kapten tim Persela itu dibawa ke RSUD Dr Soegiri Lamongan setelah tidak sadarkan diri di pengujung babak pertama pertandingan melawan Semen Padang di GOR Surajaya, Lamongan.
 
"Choirul Huda mengalami trauma benturan dengan sesama pemain, sehingga terjadi apa yang kita sebut henti napas dan henti jantung. Oleh teman-teman medis di stadion sudah dilakukan penanganan pembebasan jalan napas dengan bantuan napas. Kemudian dirujuk ke UGD (Unit Gawat Darurat) RSUD dr Soegiri," kata Yudistiro. 
 
Dokter RSUD Dr. Soegiri, Yudhistira Andri Anggito, mengungkapkan kronologi detik-detik meninggalnya Choirul Huda. (Dokter RSUD Dr. Soegiri, Yudhistira Andri Anggito, mengungkapkan kronologi detik-detik meninggalnya Choirul Huda. (Ari Bowo Sucipto)
 
"Di ambulans (Choirul Huda) juga ditangani secara medis untuk bantuan napas maupun untuk penanganan henti jantung sampai tiba di UGD," jelasnya. 
 
Di UGD tim dokter juga telah lakukan pemasangan alat bantu napas yang sifatnya permanen. Dokter melakukan inkubasi dengan memasang alat semacam pipa napas. Itu dilakukan untuk menjamin oksigen bisa 100 persen masuk ke paru-paru. 
 
"Dengan itu kita melakukan pompa otak dan jantung. Sempat ada respons dari Choirul Huda dengan gambaran kulit memerah, tetapi kondisnya tetap semakin menurun," terangnya. 
 
Yudistiro menambahkan, bantuan pompa jantung dan otak yang dilakukan tim dokter berlangsung selama satu jam. Namun, tetap tidak ada respons dari kiper 38 tahun itu. 
 
"Tidak ada refleks tanda-tanda kehidupan normal. Kemudian kami menyatakan meninggal pada pukul 16.45. Kami sudah mati-matian untuk mengembalikan fungsi vital tubuh Choirul Huda."
 
Jelas Yudistiro, sesuai analisis awal ada benturan di dada dan rahang bawah Choirul Huda. Ada juga kemungkinan trauma dada, trauma kepala dan trauma leher yang dialaminya.
 
"Di dalam tulang leher itu ada sumsum, tulang yang menghubungkan ke batang otak. Di batang otak itu ada pusat-pusat semua organ vital, pusat denyut jantung dan napas. Mungkin itu yang menyebabkan Choirul Huda henti jantung dan henti napas."
 
"Itu analisis awal kami, karena tim kami tak sempat melakukan scaning, karena mas Huda tidak layak transport dengan kondisi kritis seperti itu. Kami tidak bisa mengkondisikan untuk dibawa ke Radiologi. Kami lebih menangani kondisi awal," bebernya. (Cnnindonesia)

Ingin mengirimkan Berita atau Photo menarik di sekeliling anda? kirim Email ke alamat : detakriaunews@gmail.com atau redaksi@detakriaunews.com
( harap cantumkan data diri anda ).

loading...