Begini Mekanisme Pemilihan Paskibraka Pembawa Bendera Pusaka

  • DRN
  • 16 Agu 2018, 09:11:39 WIB

Detakriaunewws.com - Paskibraka atau Pasukan Pengibar Bendera Pusaka tentunya sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyak putra putri Indonesia yang ingin masuk ke dalam pasukan ini. Kalau di tingkat daerah, Paskibraka ini biasa disebut dengan Paskibra atau Pasukan Pengibar Bendera.

Selama karantina ini, masing-masing mereka pastinya berlatih dengan keras. Apalagi biasanya ada persaingan memperebutkan Kelompok Delapan.

Kelompok Delapan ini merupakan tim inti dalam formasi Paskibraka dan Paskibra, dan posisi ini menjadi posisi impian bagi para calon Paskibra dan Paskibraka 2018.

Kelompok Delapan berposisi di belakang kelompok 17 sebagai pasukan inti dan pembawa bendera.

Dalam kelompok ini terdapat empat orang personil TNI atau POLRI sebagai pengawal. Dua orang putri Paskibraka sebagai pembawa bendera (sekarang hanya satu pembawa bendera), tiga orang putra Paskibraka pengibar atau penurun bendera, dan tiga putri Paskibraka di saf belakang sebagai pelengkap atau pagar.

Kelompok ini pulalah yang biasanya banyak menjadi sorotan masyarakat, terutama bagi putri Paskibraka yang bertugas membawa baki bendera pusaka.

Hingga saat ini belum ada informasi siapa yang akan membawa bagi bendera pusaka itu. Nah, sebenarnya seperti apa mekanisme pemilihan anggota yang bakal menempati posisi impian tersebut?

Dilansir dari Tribunnews, penentuan petugas pembawa baki dan pengibar bendera ada di tangan seorang Koordinator Pelatih Paskibraka.

Waktu penentuannya tidak menentu. Bisa malam hari sebelumnya (Hari H), bisa H-1 atau Hari H tanggal 17 Agustus. Bahkan tahun lalu, pengumuman petugas pembawa baki dan pengibar bendera dilakukan lima menit sebelum tampil.

Penilaian untuk menentukan posisi penting itu memang dilakukan hingga hari H tampil di hadapan presiden. Sebelumnya saat latihan, para anggota Paskibraka akan diberikan kesempatan yang sama untuk menjajal posisi itu.

Selama latihan itulah dilakukan penilaian kepada semua anggota. Bukan tanpa alasan, sistem pemilihan punya tujuan tertentu. Diharapkan semua anggota Paskibraka bisa meredam ego masing-masing.

Sangat dimaklumi jika mereka sama-sama menginginkan dan bersaing untuk mendapatkan posisi tersebut.

Namun dengan sistem ini, anggota Paskibraka diminta bisa bersikap lapang dada meski nantinya tak terpilih sebagai pembawa baki atau pengibar bendera.

Jadi jika penasaran siapa pembawa baki atau pengibar bendera tahun ini, kita harus bersabar hingga tanggal 17 Agustus 2018 nanti.

Keunikan Paskibraka di Indonesia, dari Formasi Hingga Hukuman Kalau Bendera Terbalik

Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) pasti pernah Anda lihat aksinya pada ucapara kemerdekaan di Istana Negara. Aksi puluhan anak muda Indonesia selalu memukau setiap tahunnya. 

Tahukah Anda fakta-fakta mengenai Paskibraka ini? Jika tidak, mari lihat apa saja informasi tentang Paskibraka, seperti TribunStyle.com lansir dari Kompas.com

PENCETUS PASKIBRAKA

Paskibraka pertama kali dicetuskan oleh Idik Sulaiman tahun 1973. Sebelumnya, kepanjangan dari Paskibraka adalah Pasukan Penggerek Bendera Pusaka.

Kata penggerek digunakan dari tahun 1967 sampai 1972. Setelahnya diganti menjadi kata pengibar.

LAMBANG PASKIBRAKA

Lambang KORPS Paskibraka berbentuk prisai berwarna hitam yang ujungnya dikeliling warna kuning.

Perisai berarti siap membela negara, warna hitam bearti percaya diri, dan warna kuning berarti bangga. Di tengah prisai, akan ada sepasang anak Indonesia yang berarti para paskibraka. Terdapat tiga garis horizon yang berarti nasional, provinsi, dan kota.

Lalu tidak ketinggalan sang bendera merah putih di dalam perisai yang berarti lambang negara. Lambang anggota paskribaka berupa bunga teratai yang berarti lahir dilumpur dan tumbuh di air.

Tiga kelompak bunga yang ke atas yang berarti belajar, bekerja, dan berbakti. Sedangkan tiga kelompak bunga ke samping berarti aktif, disiplin, dan gembira.

FORMASI PASKIBRAKA

Formasi Paskibraka ada tiga. Pertama pasukan 17 yang terdiri dari 17 anggota paskibraka muda, mereka sebagai pengiring.

Kedua pasukan 8 yang terdiri dari delapan orang paskibraka muda, lima putri dan tiga putra lalu dikawal anggota ABRI atau polisi. Mereka di pasukan 8 adalah pasukan inti.

Ketiga pasukan 45 yang terdiri dari anggota ABRI atau polisi, mereka sebagai pengawal. Angka 17-8-45 diambil dari hari proklamasi Indonesia 17 Agustus 1945.
  
JULUKAN PASKIBRAKA

Pasukan pengibar bendera tidak hanya dilakukan di Istana Negara namun diseluruh instansi di Indonesia. Hanya saja untuk julukan paskibraka hanya diberikan kepada mereka yang mengibarkan bendera ditingkat nasional, provinsi, dan kota.

Sementara mereka yang mengibarkan bendera di sekolah disebut paskibra. Purna paskibraka diberikan kepada mereka yang telah mengikuti pelatihan tingkat nasional, provinsi, dan kota.

SELEKSI PASKIBRAKA

Untuk menjadi paskibraka sangat sulit. Ada beberapa tahap yang harus dilakukan. Pertama setiap sekolah berhak mengirim 10 anak (lima putra dan lima putri) kelas 2 SMA/SMK/MA.

Mereka akan ikut seleksi kota selama seminggu pada bulan April. Syaratnya selain tinggi adalah nilai rapor dan tes kesehatan.

Untuk putra tinggi badan antara 165-175cm. Untuk putri tinggi badan antara 160-170 cm. Tidak berkacamata. Kaki tidak tinggi sebelah dan tidak berbentuk O atau X. Sehat jasmani dan rohani.

Setelah lolos, mereka akan masuk tes provinsi pada bulan Mei. Jika lolos, setiap provinsi akan mengirim dua pasang (dua putra dan dua putri) ke nasional.

Di tingkat nasional, mereka hanya akan memilih satu pasang untuk setiap provinsi. Jadi akan ada 68 anak dari 34 provinsi yang akan mengikuti seleksi nasional dan menjadi paskibraka.

HUKUMAN UNTUK PASKIBRAKA

Setiap daerah memiliki hukuman masing-masing bagi paskibraka. Biasanya jika bendera terbalik atau berbentuk kupu-kupu maka mereka harus push up.

Tapi jika bendera terbalik di Istana Negara maka hukumannya pasti jauh lebih berat. 

Konon Paskibraka di level nasional akan ditembak bius andai bendera yang dikibarkan terbalik. Namun hingga saat ini tidak ada konfirmasi resmi perihal ini dari Istana Negara.

Sepertinya hal itu hanya rumor semata. Untungnya, hingga saat ini tidak ada tragedi bendera terbalik saat pengibaran di level nasional.

Lima Anggota Paskibraka Nasional Ini Penuh Prestasi Meski Tak Berkecukupan

Lima anak muda ini berhasil membuat prestasi membanggakan meski tak berkecukupan. Dengan kegigihan dan latihan, mereka terpilih menjadi anggota Paskibraka Nasional di Istana Negara.

Siapa saja?

Berikut ulasannya:

1. Mia Talia

Mia Talia Paskibraka 2017 perwakilan dari Kalimantan Barat. Ia adalah siswi SMK 1 Tangaran, Sambas. Mia adalah anak keempat dalam keluarganya.

Ia tinggal di Dusun Pinang Merah Selatan, Kecamatan Tangaran, Sambas. Sehari-hari, Mia tinggal di wilayah yang belum teraliri listrik dan jalanan masih berupa pasir.

Meski begitu, Mia berhasil membuat orangtua dan wilayahnya bangga karena terpilih menjadi Paskibraka Nasional.

2. Andreas Gunawan

Andreas mewakili provinsi Aceh untuk Paskibraka 2017. Andreas sempat terbentur dana ketika diminta mengikuti diklat Paskibraka 2017 di Cibubur.

Ibunya merupakan ibu rumah tangga yang membuka kios sembari berjualan bensin eceran. Sementara sang ayah bekerja di bidang bangunan.

Karenanya Andreas tak tega meminta dana pada orangtua. Beruntung Pemerintah Kabupaten dan Provinsi menyanggupi untuk membantu Putra Aceh tersebut.

3. Ni Made Widyastuti

Ni Made mewakili provinsi Sulawesi Barat. Ia merupakan anak seorang petani dari Mamuju Tengah. Meski begitu, Ni Made tak gentar. Ia justru bangga dengan asal usulnya.

Ia selalu ingat pesan ayahnya, tak apa menjadi anak petani, toh petani itu bos; bos di kebun sendiri.

4. Ita Safitri

Ita Savitri mewakili Sulawesi Tenggara. Sama seperti Ni Made, Ita juga anak seorang petani. Meski begitu, Ita adalah sosok yang penuh semangat.

Ita ingin dengan menjadi Paskibraka, cita-citanya menjadi Kowad bisa tercapai. Ia sadar, orang tuanya hanya petani yang mungkin tak sanggup membiayai pendidikan lebih tinggi.

Maka dia berharap ini adalah kesempatan baik untuknya.

5. Kloria Marau

Kloria Marau mewakili Papua Barat.

Dengan perjuangan hebat, Kloria bisa mengalahkan ribuan saingan lain dan berhasil terpilih menjadi salah satu anggota Paskibraka Nasional 2017.

Ayah Kloria merupakan seorang nelayan. Kloria sempat terkejut ketika namanya terpilih mewakili provinsi. Bahkan kala itu, ia baru pertama kalinya naik pesawat untuk terbang ke Jakarta. (TribunPekanbaru.com)



Ingin mengirimkan Berita atau Photo menarik di sekeliling anda? kirim Email ke alamat : detakriaunews@gmail.com atau redaksi@detakriaunews.com
( harap cantumkan data diri anda ).

Hosting Unlimited Indonesia