Dibina Program DMPA APP-Sinarmas Forestry, Petani Sayur di Tualang Kian Sukses

  • DRN
  • 28 Mei 2019, 15:16:05 WIB

Pekanbaru, Detakriaunews.com - Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) Asia Pulp & Paper-Sinar Mas Forestry (APP-SMF) Region Riau, Desa Perawang Barat Kecamatan Tualang Kabupaten Siak kembali membuahkan hasil, salah satunya adalah Petani Herman (49 thn) yang juga salah  seorang anggota Poktan (Kelompok Tani) dari Program DMPA APP-SMF.

Herman dengan bermodalkan Rp. 20 jt, dapat menghasilkan Rp 40 s/d Rp 43 Jt dalam satu bulan.   Rasa penasaran media semangkin tinggi, bagaimana Herman bisa mendapatkan pendapat sebanyak tersebut. Ternyata untuk meningkatkan hasil produksi pertanian tanaman sayur miliknya, Herman mempunyai strategi tanam dan panen yang hampir sama penerapannya dengan strategi sistim rotasi tanam HTI (Hutan Tanaman Industri) PT AA (Arara Abadi).

Yaitu dengan sistim rotasi, perbedaannya terletak pada masa panen, jika HTI masa panen 5 (lima) Tahun, tapi pertanian sayur yang dibuat Herman hanya membutuhkan rotasi  tanam 20 (dua puluh) hari, setelah itu panen.   Herman awalnya hanya memiliki lahan sekitar 2 ha yang beliau tanami sawit,  yang saat ini dia memiliki lahan seluas sekitar 4,5 ha, yang ditanami dari berbagai tanaman pertanian dan perkebunan, dari 4,5 ha yang dimilikinya, Herman menyisihkan ¼ ha untuk pertanian sayur, yaitu: Sayur Bayam dan Sayur Kangkung.  

Herman kepada media baru-baru ini menjelaskan, "Awalnya saya adalah petani/pekebun sawit dengan 2 ha, namun perlahan-lahan sebagian areal sawit saya tersebut saya rubah dan saya tanami dengan tanaman pertanian holtikultura seperti buah-buahan, sayur-sayuran bayam dan kangkung seluas ¼ ha, dari pertanian sayur tersebut, saya dapat menghasilkan 600 ikat sayur bayam dan kangkung setiap harinya yang langsung saya jual kepasar Perawang," kata Herman. 

Dengan penghasilan bisa mencapai Rp 40 sampai dengan Rp 43 juta setiap bulannya, pertanian sayur ini modal awal saya Rp 20 juta. Jadi bersih setiap bulan saya dapat keuntungan 20- 23 juta. Kini berkat ketekunan, awalnya lahan saya 2 ha, saya membeli lahan disekitar areal saya, sehingga saat ini lahan saya sudah mencapai 4,5 hektar yang ditanami berbagai komoditas holtikultura lainnya.  

"Sistim penanaman sayur, saya menggunakan cara yaitu, setelah panen bayam hari ke 20, lalu saya tanam kangkung dibekas tanam bayam tadi, begitu juga setelah panen kangkung saya tanam bayam, tujuannya agar hasilnya maksimal, dan pembagian lokasi tanam pun saya buat perpetak dengan masa rotasi 20 hari, artinya, setelah panen langsung tanam, dan besok nya panen pada petak lainnya, begitu seterusnya," ujar Herman lagi.  

Untuk pemasaran selalu dibantu perusahan PT AA APP-SMF dalam merawat jalan sebagai akses angkutan hasil sayur saya. Karena areal saya harus melalui akses masuk kawasan konsesi perusahaan. Saat ini perusaahan sudah banyak membantu kami petani-petani Program DMPA disekitar konsesi perusahaan, saya mengucapkan terimakasih banyak kepada perusahaan yang selama ini telah banyak membina, membantu baik permodalan maupun pengembangan usaha saya dan kawan-kawan disekitar perusahaan," papar Herman.

Penanggung jawab Program DMPA APP-SMF Region Riau, Miswanto yang didampingi Public Relations PT AA. APP-SMF Region Riau Nurul Huda kepada media menyampaikan Herman adalah salah satu masyarakat yang mendapat Program DMPA PT AA APP-SMF melalui Poktan mereka. Bagi perusahaan keberadaan Herman adalah sebagai bukti atau contoh, bagaimana masyarakat dalam membuka atau membersihkan lahan untuk meningkatkan perekonomian dalam bidang pertanian tanaman holtikultura.

"Kami dan kawan-kawan yang tergabung dalam Poktan, Perusahaan melakukan bimbingan, pembinaan, dan membantu permodalan serta kita arahkan agar tidak melakukan pembakaran untuk membersihakan lahan”. Demikian Miswanto menyampaikan," ujarnya lagi. (Riauterkini.com)

Ingin mengirimkan Berita atau Photo menarik di sekeliling anda? kirim Email ke alamat : detakriaunews@gmail.com atau redaksi@detakriaunews.com
( harap cantumkan data diri anda ).

Hosting Unlimited Indonesia