Kisah Mantan Napi Jadi Dai, Bangun Mesjid Hingga Tulis Buku

  • DRN
  • 29 Mei 2019, 16:39:04 WIB

Maros, Detakriaunews.com - Sudah 14 tahun sudah, Hamka Mahmud, seorang mantan Narapidana memilih menjadi seorang penceramah atau Dai. Warga Jalan Bambu Runcing, Kecamatan Turikale, Maros, Sulawesi Selatan ini lebih dikenal dengan Dai Kamtibmas karena isi ceramahnya. 

Pria kelahiran tahun 1984 ini memang punya spesifikasi khusus dalam membawakan dakwahnya. Ia memilih menjadi penceramah tetap di beberapa Lemabaga Pemasrakatan (Lapas) ataupun Rumah Tahanan (Rutan) di Sulawesi Selatan, mulai dari Makassar, Gowa, Maros hingga Pangkep. Materi dakwahnya pun sangat menarik terutama bagi para Napi. 

Betapa tidak, ia yang pernah mendekam di Lapas kelas II A Maros selama 5 bulan atas kasus sepele di tahun 2006 silam, tahu betul apa yang menjadi permasalahan dan derita warga binaan. Melalui pendekatan sebagai mantan Napilah, ia pun berhasil mendapatkan kepercayaan sekaligus inspirator bagi mereka untuk kembali ke jalan Tuhan. 

"Saya masuk penjara saat itu masih kelas 3 SMA. Saya menghabiskan masa tahanan saya selama 5 bulan di dalam Penjara dengan kasus pencemaran nama baik bersama kakak saya. Saya bersyukur dengan musibah ini karena ternyata inilah yang menjadi jalan saya menjadi seperti sekarang,"katanya, Rabu (29/05/2019). 

Bagi Hamka, menjadi seorang dai yang lebih khusus membina para narapidana menjadi hal yang istimewa. Menurutnya, seorang narapidana tidak akan selamanya mendekam di balik jeruji dan satu waktu akan kembali ke tengah-tengah masyarakat. Olehnya, dalam masa itu, mereka harus mendapatkan pembinaan dengan pendekatan rohani yang lebih mantap. 

Tak jarang, kata dia, seorang mantan narapidana yang bertahun-tahun di Lapas, saat bebas malah kembali terjerumus pidana. Selain faktor lingkungan yang masih memberikan stigma negatif, pembinaan rohani dalam Lapas juga masih sangat minim. Alhasil, eks narapidana ini malah kambuh saat bebas. 

"Pembinaan di Lapas ini memang harus mengedepankan pendekatan rohani. Mereka harus disentuh dengan orang yang tepat dan kalau bisa senasib dengan mereka agar mudah diterima. Jika tidak, malah mereka yang telah bebas, akan kembali lagi. Dan itu banyak terjadi," lanjutnya. 

Awalnya, Hamka yang pernah belajar di salah satu pesantren di Maros ini, memang sudah kerap mengisi ceramah di Masjid Lapas saat masih menjadi Napi. Setelah bebas, ia memilih menjadi seorang penjual buku dan berkeliling ke luar kota untuk memasarkan bukunya. Kesempatan menjadi Dai pun terbuka saat Polda Sulsel mencari seorang mantan Napi untuk menjadi Dai Kamtibmas. 

"Waktu saya bebas, saya menjadi penjual buku-buku agama memang. Saya berkeliling ke luar kota kalau ada acara untuk menjual buku saya. Saat Polda Sulsel mencari mantan Napi untuk jadi Dai Kamtibmas, saya dihubungi oleh Polres Maros dan saya mendaftarkan diri saat itu," sebutnya.

Halaman Berikutnya:

1 2 NEXT

Ingin mengirimkan Berita atau Photo menarik di sekeliling anda? kirim Email ke alamat : detakriaunews@gmail.com atau redaksi@detakriaunews.com
( harap cantumkan data diri anda ).

Hosting Unlimited Indonesia